Untuk para calon istri : Bagaimana memilih calon suami ?

Bismillahirrahmanirrahiiim

Assalamualaikum modern father and momss 😀

Selamat membaca dan semoga saja ada hikmah yg diperoleh yaa hingga akhir tulisan iniii 😀

karna ini pertama dan gatau harus nulis apa jadi saya memutuskan untuk warmingup ya moms hehe

Biar pada “ngeh” apa sih isi tulisan ini ? apa informasinya sesuai sama yg di butuhkan ? menarik gak sih buat dibaca sampe akhir?

oke okee.. jadi biar saya perjelas dulu yaa diawal saya udah menyapa dg sapaan father and moms, sooo tulisan ini idealnya dibuat untuk para ayah ibu muda, calon ayah ibu dann yang mau nikah juga boleh banget loh yaa baca2 ini biar semakin luas gitu wawasannya hehe. daripada kepanjangan bacanya jadi langsung aja cus yuk!

InsyaAllah nanti akan ada sharing mengenai bagaimana lika liku berumah tangga jugaa yaa. dan sebelum kesana saya ingin berbagi mengenai “Bagaimana sih seharusnya saya memilih calon suami?” selama ini kan banyak beredar tulisan mengenai bagaimana memilih istri yg baik yak. nah kalo buat yg para wanita gimana dong? penasaran gaa?? kalo iya boleh deh lanjut bacanya 👇

Memiliki pendamping hidup yang “nyaris” sempurna adalah idaman hampir semua manusia. Calon suami dan istri adalah manusia dimana letaknya salah dan khilaf oleh karena itu belajar memahami karakter satu sama lain dan saling support juga salah satu usaha untuk mewujudkannya. (⛔saya tidak menyarankan ini melalui proses pacaran ya!) tapi jangan pernah melupakan bahwa ketika kita memutuskan untuk berumahtangga bersama pasangan kita maka yang dibutuhkan bukan kesempurnaan akan tetapi bersama mewujudkan sebuah kesempurnaan itu sendiri. Sebenarnya tidak pernah ada sempurna yang ada hanyalah berusaha mendekati sempurna. Oleh karenanya hal-hal ini bisa jadi pertimbangan👇

✔ Bertanya pada diri sendiri

Pernikahan bisa dibilang akan menekan banyak ego kita. Apalagi yg udah nikah bertaun taun, rasanya udah bener2 kebal sama yg namanya kejelekan pasangan yg mungkin memang menjadi hal yg paling menjengkelkan buat kita. Disaat seperti itu kita harus berusaha meluruskan niat tulus apakah sebenarnya tujuan kita menikah. Apakah karena dia ganteng? mapan? soleh? pintar? atau dijodohkan? memiliki alasan yg sudah saya sebutkan sah-sah sajaa akan tetapi sepertinya ada yg kurang? semua itu hanyalah bersifat sementara, tidak ada yg bisa menjamin semua itu berlangsung abadi dalam arti yg lain ada hal yg lebih berarti daripada alasan tersebut, yaitu menikah karena Allah, niatkan menikah untuk beribadah kepadaNya dan mengikuti sunnah Rasulullah. sehingga setiap yg kalian lakukan adalah bernilai ibadah di hadapanNya seperti hadits

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Hadits tsb menjelaskan bahwa setiap amalan benar-benar tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang ia niatkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya…” [An-Nuur/24: 32].

Dan hadits-hadits mengenai hal itu sangatlah banyak.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ، فَقَدِ اسْـتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْـنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَـا بَقِيَ.

“Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.”[1]

✔Bertanya tentang dia kpd org terdekat

Penting juga untuk tahu bagaimana dan orang seperti apakah calon yg akan bersama kita nantinya. Tentunya dari sumber yg valid ya seperti ayah ibunya kakak atau guru atau teman dekatnya. Ketika kita tau dari cerita mereka setidaknya kita tau bagaimana menghadapi dia, kalaupun memang kurang akurat nanti kan bisa di bicarakan baik2 after nikah yaa. Pendekatan lebih dalam baiknya dilakukan setelah menikah yaa, salah satu caranya untuk mengenal lebih dalam ttg pasangan kita itu saat honeymoon loh karna itu adalah momen berdua.

✔Memohon petunjuk (Istikharah)

Nah ini juga penting, sebagai penguat diri untuk melangkah ke pernikahan. karna saat kita akan melangkah ke pernikahan selalu saja banyak godaan yg menyerang. hal ini karna kita mau melakukan kebaikan karna itu syetan senantiasa menggoda untuk melemahkan niatan tersebut. Saat istikharah usahakan perasaan netral dan tidak mendikte supaya berjodoh dengan orang yg kita sukai. kenapa? krn seperti itu anjurannya hehe.

✔Jangan banyak menuntut

Jodoh itu “sekufu” loh. Jadii gausah terlalu muluk yaa. nanti malah ga nikah2 karna cari yg sempurna hehe. Ingat menikah itu untuk bersama sama menggapai ridha Allah yaaa

✔Pasrahkan kepada Allah

Setelah semua usaha dilakukan serahkan hasilnya kpd Allah. karena Dia lah yg telah menentukan perkara tsb sebelum kita lahir. Percaya saja Allah sebaik baik perencana dan gakan salah memilih jodoh untuk kita.

Wallahu’alam

Sekian – terimakasih

Semoga bermanfaat yaa 😊

Advertisements